Please take a moment to complete this survey below
Library's collection Library's IT development CancelPada September 2002 Ricardo membawa mesin Perkins buatan Amerika Serikat ke rumahnya. la juga mengusung gagasannya pada Tiyang, ST, dosen senior di kampusnya, sebagai bahan Tugas Akhir (TA). Usulan anak bungsu pasangan Johannes Putra Wijaya dan Triesnaryanti ini dikabulkan Tiyang. Ricardo ingin menjadikan Perkins sebuah printer yang dioperasikan komputer. Untuk itu la menambah dua motor stepper untuk menaik-turunkan kertas secara otomatis. Sedangkan ke enam tuts utuk menulis huruf dihubungkan dengan selenoide. Untuk menggerakkan motor stepper dan selenoide dibutuhkan driver. Tugas ini dipercayakan Ricardo pada mikro kontroler MCS-51. Selesai sudah tahap mengubah mesin ketik jdi printer. Selanjutnya, Ricardo membuat piranti pengolah kata untuk mengubah huruf di keyboard komputer menjadi huruf Braille. la memilih software Borland Delphi 5. Karena fungsinya sekadar mengetik huruf, ia membuat piranti pengolah kata sederhana. Walhasil, jadilah printer Braille karya Ricardo. Berbeda dengan Perkins asli yang bisa dipakai kaum tunanetra, hasil gubahan Ricardo hanya bisa dioperasikan orang melek. "Yang saya utamakan, file-file milik para tuna netra bisa diperbanyak tiap saat”, kata penggemar berat badminton ini.