Please take a moment to complete this survey below
Library's collection Library's IT development CancelBagi Indonesia industri rokok tennasuk salah satu komoditi yang dilematis.
Di satu sisi dianggap dapat menggangu kesehatan bagi konsiimennya, tetapi di sisi
lainnya rokok termasuk salah satu penyumbang pendapatan negara yang cukup tinggi.
Industri rokok belakangan ini banyak mendapat tantangan yang cukup berat,
antara lain : himbauan untuk menghindari rokok demi kesehatan yang telah
banyak dikeraukakan oleh berbagai kalangan, cukai rokok yang hampir setiap
tahun mengalami kenaikan serta kenaikan harga cengkeh.
Tantangan yang cukup berat senantiasa menimpanya serta persaingan pasar
yang semakin ketat, mendorong setiap badan usaha untuk memikirkan langkah-langkah
yang terbaik bagi badan usaha agar tetap dapat exist. Agar badan usaha
dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang
kompetitif perlu dilakukan pengendalian atas proses produksi. Salah satu caranya
adalah dengan menekan kemungkinan terjadinya produk cacat karena produk
cacat akan menimbulkan kerugian bagi badan usaha baik secara kuantitatif
maupun secara kualitarif. Dengan menggunakan informasi biaya kegagalan
internal ini, badan usaha dapat mengadakan pengukuran kinerja bagi tenaga
kerjanya untuk mendorong peningkatan kualitas produk atau mengurangi jumlah
produk cacat yang terjadi.
Kualitas yang baik merupakan hasii dan proses belajar. Melalui proses
belajar, kemampuan dan keterampilan tenaga kerja akan meningkat sehingga
defect, scrap, dan rework yang dihasilkan akan berkurang. Dari hasil studi
lapangan telah terbukri bahwa semakin cepat proses belajar yang. terjadi maka
biaya kegagalan internal juga akan menurun secara eksponensial. Adanya korelasi
yang kuat antara proses belajar dan biaya kegagalan internal menyebabkan
pentingnya proses belajar untuk diperhatikan dalam aktivitas perencanaan dan
pengendalian, khususnya yang menyangkut biaya kegagalan internal. Dengan
melihat jumlah biaya kegagalan internal yang terjadi pada PT. "X", yang
disebabkan karena PT. "X" kurang memperhatikan peningkatan proses belajar dan
menganggap kerusakan produk yang terjadi adalah kewajaran, maka PT "X" perlu
untuk menetapkan standart biaya kegagalan internal yang tepat untuk mengukur
kinerja tenaga kerjanya. Standart yang digunakan dalam pengevaluasian kinerja
perlu disesuaikan dengan proses belajar yang terjadi sehingga berakibat pada
pemberian kompensasi yang tepat dan akhimya memotivasi tenaga kerja untuk
belajar menghasilkan produk lebih baik lagi.
Mengingat besamya pengaruh proses belajar terhadap biaya kegagalan
internal, badan usaha harus menciptakan kondisi terbaik sehingga kemampuan
dan keterampilan tenaga kerja dapat terpelihara dan berkembang sehingga
berakibat pada peningkatan kualitas produk dan profitabilitas badan usaha.